Peran Penting Keamanan Siber Ditengah Panasnya Geopolitik Dunia

Munculnya aliansi siber dan munculnya ancaman siber akan memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali perilaku mereka di panggung global.

Peran Penting Keamanan Siber Ditengah Panasnya Geopolitik Dunia


Ketika perang Rusia-Ukraina meningkat pada bulan April 2022 lalu, serangkaian serangan dunia maya menghantam perusahaan pembangkit listrik tenaga angin Jerman. Serangan tersebut mengganggu sistem hampir 2.000 turbin angin. Kelompok di balik serangan itu diduga berafiliasi dengan Rusia.

Tentu saja, serangan siber terhadap Jerman bukanlah hal yang tidak terduga. Karena perang di Ukraina, dan semakin besarnya jurang pemisah antara Rusia dan Barat, kampanye siber yang berlarut-larut antara kedua belah pihak tidak bisa dihindari.

Walaupun tidak terlihat sebagai raksasa teknologi, Rusia selalu menjadi salah satu negara yang diakui kehebatan dunia mayanya dan menjadi sumber munculnya banyak hacker dunia maya. Misalnya Sandworm yang telah mengembangkan malware jenis baru yang disebut Cyclops Blink, menargetkan perangkat firewall yang dibuat oleh pabrikan Watchguard.

Selain Rusia, China disebut-sebut getol menargetkan infrastruktur milik Amerika Serikat, hal ini semakin meningkat sejak dilarangnya Huawei berdagang dan beroperasi di Amerika Serikat. Lebih jauh, mereka memata-matai berbagai organisasi infrastruktur penting AS, mulai dari telekomunikasi hingga pusat transportasi, badan intelijen Barat, dan Microsoft.

Untuk menghadapi serangan-serangan siber, Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Estonia membentuk aliansi siber untuk menangani hal tersebut. Aliansi ini mungkin saja menggunakan keamanan siber berbasis AI yang dapat melindungi Amerika Serikat dan Barat dari serangan dunia maya yang menargetkan infrastruktur penting, ikut campur dalam pemilu atau melakukan deepfake kepada masyarakat.

Israel telah lebih dulu membuat Digital Iron Dome yang sepenuhnya merupakan upaya sukarela yang dilakukan oleh para eksekutif teknologi tinggi, mantan veteran unit intelijen, dan raksasa teknologi besar yang beroperasi di Israel termasuk Google, Meta (Facebook dan WhatsApp), X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter), TikTok, dan LinkedIn. Misi mereka adalah memberantas narasi palsu dengan cepat dan efektif dari platform sosial.

Digital Iron Dome juga digunakan dalam perang Israel-Hamas pada yang dimulai pada 7 Oktober 2023, dimana kubah digital ini melakukan upaya pembersihan narasi palsu dan menangkal propaganda anti Israel.

Sampai saat ini, Digital Iron Dome masih melakukan pertahanan untuk menangkal upaya-upaya dan tindakan anti israel dalam rangka melawan Israel secara digital. Tagar #FreePalestine & #CeaseFireNow misalnya, merupakan target utama dari Digital Iron Dome yang penggunaannya terus meluas.

Indonesia sendiri untuk saat ini belum memiliki pertahanan digital yang dapat diandalkan, peretas Bjorka misalnya, dapat dengan bebas melakukan pencurian data identitas WNI dan dijual dengan bebas di forum luar negeri. Pencurian data juga terjadi pada Tokopedia yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Dua contoh tersebut menunjukkan lemahnya pertahanan digital negara ini, padahal pemerintah memiliki Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang bertanggungjawab dalam bidang keamanan dan informasi siber.





Dukung situs ini melalui:


Nih buat jajan