Formula 1 adalah olahraga global yang ditonton lebih dari 1,7 miliar orang di seluruh dunia pada tahun 2019. Namun F1 bukan hanya tentang olahraga. Olahraga ini merupakan industri bernilai jutaan dolar dan persaingan berbagai teknologi mutakhir, mulai dari inovasi dalam bahan material, desain aerodinamis, unit tenaga hybrid yang canggih bahkan pakaian yang dikenakan pengemudi.

Di dunia Formula 1, teknologi komunikasi dan big data paling canggih digunakan secara ekstensif. Teknologi ini menghasilkan analisis dari sejumlah besar data yang dihasilkan setiap menit dari laga Grand Prix yang membuat kompetisi ini begitu istimewa.

Tanpa analitik big data realtime, F1 yang kita kenal sekarang akan sangat berbeda. Ratusan poin data per detik dihasilkan di semua area utama mobil. Sementara itu, para insinyur dan analis data — baik di sirkuit maupun di pabrik yang jauhnya ribuan mil — bersaing untuk mengekstrak informasi sebanyak mungkin dari mobil yang berlaga di sirkuit dan mempersenjatai tim dengan informasi tersebut dalam pertarungan untuk meraih kemenangan.

Berapa & data apa yang dihasilkan pada balapan F1?

Sejumlah besar data dihasilkan oleh setiap mobil selama Grand Prix Formula 1 berlangsung. Awalnya semua dimulai dengan stopwatch dan papan tulis. Kemudian, pada 1990-an, komputer dasar mulai berkembang, dan F1 mulai menggunakannya untuk menganalisis lusinan titik data yang dikumpulkan selama pengujian sebelum akhirnya mencapai pengumpulan data massal dan analisis realtime yang digunakan saat ini.

Formula 1 adalah industri berbasis data dan akan selalu begitu. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, teknologi telah mencapai tingkat kecanggihan dan kecepatan yang sedemikian rupa. Sehingga simulasi dapat secara drastis memengaruhi hasil pengujian.

Dikutip dari Mapfre, saat ini setiap mobil F1 menampung antara 150 sampai 300 sensor yang menghasilkan jutaan titik data pada setiap balapan. Dalam bilangan angka, itu sekitar 300 GB data per mobil dihasilkan pada setiap balapan Grand Prix. Jika kita menambahkan angka tersebut ke data yang dihasilkan oleh anggota tim lainnya, jumlahnya bisa mencapai 40–50 TB data per minggu.

Menangani jumlah data sebesar itu tentunya merupakan tugas yang besar dan membutuhkan teknologi paling canggih untuk mengumpulkan data itu secara realtime, menyimpannya dengan aman dan untuk komunikasi eksternal (terutama dengan pabrik dan departemen teknik). Selain itu, daya komputasi yang diperlukan untuk analisis data realtime terus meningkat.

Itulah mengapa setiap tim bermitra dengan perusahaan yang mengkhususkan diri dalam komputasi awan dan analisis data. Hal ini berarti bahwa tim dapat mendelegasikan sebagian analisis data kepada mitranya dan hanya berfokus untuk bersaing dengan rival mereka.

Jutaan titik data yang dikumpulkan oleh sensor di dalam mobil dianalisis dan dikirim ke para insinyur. Hasilnya memberi mereka informasi untuk terus meningkatkan peningkatan aerodinamika, kinerja dan penanganan mobil, serta untuk mendapatkan informasi berharga tentang cara menyempurnakan mobil pada setiap sirkuit.

Mesin menganalisis antara 40 sampai 50 sensor yang penting. Mulai dari suhu, tekanan, kecepatan rotasi dalam putaran per menit, status mesin dan banyak lagi.

Analitik big data – faktor penentu kemenangan

Menganalisis sejumlah besar data yang dihasilkan oleh setiap mobil dan pengemudi selama balapan berlangsung adalah perbedaan antara kemenangan dan kekalahan. Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat lusinan contoh tentang bagaimana analisis data yang baik telah mengubah balapan yang tampak seperti kekalahan menjadi sebuah kemenangan.

Contoh paling spektakuler dari semuanya mungkin adalah Grand Prix Brasil 2012. Sebastian Vettel, yang mendominasi Grand Prix tahun itu bersama Fernando Alonso, harus menyelesaikan balapan di tiga besar untuk memenangkan Kejuaraan Dunia ketiganya secara berturut-turut.

Di lap pertama, mobilnya ditabrak dari belakang dan Vettel berada di urutan terakhir. Vettel seperti menemui jalan buntu, tetapi para insinyur segera turun tangan, mereka memeriksa apakah mobilnya dapat menyelesaikan balapan atau tidak. Bahkan sebelum Vettel menyelesaikan lap pertama GP, timnya mengetahui tingkat kerusakannya dan bahwa ada masalah keseimbangan yang dapat memengaruhi ban dan mesin.

Beberapa lap kemudian, tim menemukan solusi dari masalah tersebut. Pada saat Vettel melakukan pit stop pertamanya di lap kesepuluh, mekanik tahu bagaimana memperbaikinya dan para insinyur telah menemukan strategi untuk memenangkan Kejuaraan Dunia.

Melewati bendera kotak-kotak di tempat keenam, Vettel menjadi juara dunia Formula 1 tiga kali termuda dalam sejarah, finis tiga poin di atas Fernando Alonso, yang nyaris kehilangan gelar dunia ketiganya.

Selain contoh ini, di Grand Prix Formula 1, analitik big data adalah alat penting untuk pengembangan mobil, desain strategi balapan, dan untuk meningkatkan kinerja mobil dan pengemudi secara keseluruhan, sepersekian detik dalam satu waktu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *